Pembukaan


Terima Kasih Kepada Seluruh Muslimin Dan Muslimat Yang Telah Berkunjung Ke Blog Kami, Semoga Apa Yang Anda Baca Didalam Blog Ini Dapat Bermanfaat. Sekali Lagi Syukron Katsir, Salam Ukhuwah Islamiyah.

BERSATULAH ISLAM TEGAKKANLAH AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR.

Jumat, 07 Juli 2023

 Karena Sering Usul ke Gusti Allah, Wali Ini Terkenal "Cerewet" di Jagat Langit Malaikat


DutaIslam.Com –

Anak buah Gohell yang berjumlah lebih dari tujuh orang makin heran melihat pemimpin mereka terduduk dan menangis tersedu-sedu di hadapan Wali Paidi. Tanpa dikomando, mereka membuat pagar betis, melingkari Wali Paidi dan Gohell.

Hal itu dilakukan supaya orang-orang tidak tahu kalau pimpinan mereka menangis. Reputasi jawara dan preman akan hancur seketika jika Gohell yang dikenal bengis lalu tersiar kabar telah menangis di depan seorang pemuda yang juga berpenampilan gaul ala distro, Wali Paidi.

Di tengah menangis, pundak Gohell ditepuk Wali Paidi dan menariknya berdiri.

"Sudah mas, aku sama sampeyan ini masih saudara, jadi tidak usah sungkan".

Gohell berdiri dan mengusap air matanya, merangkul Wali Paidi, "makasih, mas".

Mereka berdua salaman, diikuti seluruh anak buah Gohell tanpa kecuali. Ada yang sampai mencium tangan Wali Paidi. "Keren orang ini, tanpa jurus apapun, si bos tunduk," gumamnya.

Suasana menjadi cair karena Wali Paidi tidak membalas mereka dengan pukulan-pukulan saktinya, seperti pernah dilakukan kepada kerajaan jin di Gunung Arjuna. (Baca: 
Hanya Karena Punya Rokok Tapi Tak Ada Korek, Kerajaan Jin Diobrak-Abrik Wali Sakti Ini).

Mereka justru dihibur Wali Paidi dengan lemparan cerita lucu. Tangis berubah jadi canda tawa di antara mereka. Wali Paidi makin bisa diterima.

Bersama Wali Paidi, Gohell dan anak buahnya menuju ke warung di pinggir jalan. Namun anak buahnya hanya menunggu di luar warung, menjaga mereka berdua, dua saudara ketemu di jalanan berkat saling merasa dihargai dan diperhatikan ibunya, yang sedang berjuang melawan sakit.

"Mas, kalau bisa sampeyan berhenti malak orang, kasihan gurumu," ucap Wali Paidi.

"Saya akan berusaha mencari kerja yang benar, mas. Doakan 
mawon nggeh," Gohell tiba-tiba bicara sopan, tidak seperti biasanya.

"Jangan sampai perguruan sampeyan Setia Hati (SH) itu menjadi singkatan Perguruan Sakit Hati. Gunakan kepandaian silatmu sebagai senam untuk kesehatan. Itu yang cocok untuk zaman sekarang. Beda dengan zaman ketika orang Islam dulu masih punya banyak musuh penjajah. Jangan belajar silat untuk mencari kesaktian atau untuk perisai diri. Perisai diri yang langsung dari Allah adalah shodaqoh. Belajarlah silat hanya untuk kesehatan, maka kamu tidak akan mencari musuh atau dicari musuh".

"Kalau belajar silat untuk mencari kesaktian atau kekuatan, jadinya ya seperti ini. Sesama saudara seperguruan tawur, saling tidak rela melihat perguruan lain unjuk kekuatan, seperti penyerbuan kemarin itu. Setia Hati diduga menyerang konvoi perguruan kera sakti," lanjut Wali Paidi.

"Iya mas, memang aku dulu belajar ilmu silat untuk mencari kesaktian dan kekuatan. Setelah lulus, aku bingung bagaimana menempatkan diri ini yang sudah merasa kuat. Akhirnya, aku mencari gara-gara agar punya musuh, namun keterusan sampai jadi seperti sekarang ini".

Obrolan lama di warung kopi itu akhirnya membuat Gohell membuka hati. Ia mengerti tentang apa arti hidup, mengerti bahwa manusia itu tinggal menjalankan peran dari Allah. Gohell tambah mengenali dirinya kelak berperan sebagai apa dan menjalankan sebaik-baiknya atas peran yang dipilih.

Wali Paidi menjelaskan bahwa di dunia ini ada yang berperan sebagai ulama, guru, pedagang, petani dll. Hanya ketaqwaan kepada Allah lah yang akan dinilai.

"Terus sampeyan sekarang mau ke mana," Gohell menyela.

"Mau ke terminal"

"Hehehe, maksudku tujuan sampeyan dari terminal".

"Mau sowan kepada salah satu guruku".

"Kalau begitu mari saya antar". Tawaran Gohell diiyakan Wali Paidi.

Sebelum beranjak, Gohell mendekati pemilik warung, menanyakan semua biaya ngopinya bersama Wali Paidi. Namun pemilik warung terdiam. Ia heran dengan sikap Gohell saat itu. Kalau makan di warung, Gohell dan anak buahnya memang biasa tidak pernah mau bayar.

"Sudah nggak usah bayar mas. Anggap saja ini sebagai selamatan buat mas. Selamatan kalau sampeyan telah terlahir kembali. Mudah-mudahan tobat sampeyan ini sebagai 
taubatan nashuha," ucap pemilik warung menyambut riang atas perubahan dadakan sang preman.

***

Dalam perjalanan ke terminal, Gohell sempat menanyakan banyak hal tentang orang-orang sholeh yang diketahui Wali Paidi. Cerita singkat tentang para wali dan juga ulama didapatkan Gohell.

Sampai ke terminal, Gohell memanggil salah satu anak buahnya dan berbisik ke telinganya, lalu diminta pergi.

"Jangan berangkat dulu mas, tunggu bus lain saja, sebentar lagi pasti datang".

Anak buah Gohell tadi kemudian datang sambil menyerahkan sesuatu kepada big bosnya itu. Wali Paidi dipepet Gohell.

"Ini mas tolong jangan ditolak," Gohell menyerahkan beberapa lembar uang kertas yang sudah kumal kepada Wali Paidi. Ada pecahan uang 2000-an dan 5000-an.

"Jangan kuatir mas, itu bukan uang haram, itu uang sumbangan dari teman-teman. Dan saya minta dengan sangat, jangan ditolak". Akhirnya Wali Paidi mau menerima uang tersebut. Kini dia punya sangu lagi, minimal untuk bekal di jalan.

Naik bus, banyak bangku kosong. Wali Paidi memilih duduk di kursi bagian tengah. Pedagang rokok naik ke atas bus. Wali Paidi memanggilnya, ingin membeli Dji Sam Soe kesukaannya.

"Ini pemberian dari Mas Gohell sebagai rasa terimakasih". Wali Paidi malah tidak jadi membayar rokoknya. Padahal sudah dirogohkan uang pemberian Gohell.

Wali Paidi menuai keberuntungan hari ini. Mulai penjual minuman, pedagang kacang hingga penjual bollpoint pun rebutan memberikan barang dagangan atau diskonan harga barang mereka kepadanya. Mereka memberi atas nama Gohell sebagai ucapan terimakasih. Hingga saat membayar karcis bus pun, Wali Paidi dibebaskan oleh kondektur atas nama Gohell juga.

"Gendeng Sholeh iki," Wali Paidi tersenyum merasakan cara Sholeh alias Gohell dalam menghormati orang lain. Semua jaringan jalanan digerakkan untuk ikut mengucapkan terimakasih. Wali Paidi serasa memiliki banyak keluarga selama 2 jam perjalanan di bus.

Sampai di sebuah kota yang dulunya wilayah kerajaan Majapahit, Wali Paidi turun membawa satu kresek besar berisi minuman dan makanan ringan pemberian dari pedagang-pedagang asongan di atas bus.

Baru melangkah turun dari bus, Wali Paidi langsung dihampiri orang gila berambut gimbal. Tas kresek Wali Paidi ditarik-tarik oleh orang yang tiba-tiba muncul itu.

"Di, Paidi, sini minuman dan makanannya. Ini punyaku," Wali Paidi membiarkan saja tas kreseknya direbut dan dibawa ngeloyor pergi begitu saja. Penasaran, dia terus mengikuti orang gila gimbal itu.

"Apa orang gila saudaraku yah, kok tahu namaku Paidi".

***

Terlihat di sudut terminal, orang gila itu tertawa cekikikan menikmati makanan dan minuman hasil rampasan dari Wali Paidi.

Melangkah lambat, Wali Paidi mendekati orang gila tersebut. Sekira jarak 10 meter, sambil makan dan minum, orang gila itu berkata.

"Tak usah heran Di, orang yang dekat dengan Tuhannya, apa sih yang tidak diketahui di muka bumi ini. Yang diketahui oleh Gusti Allah juga diketahui oleh para kekasih-Nya, apalagi namamu, yang sudah terkenal di langit sana. Namamu seringkali muncul karena keseringan cerewet dan usul ke Gusti Allah".

Minuman Sprite kaleng masih diminum si orang gila tersebut.

"Para malaikat sering berkata, Gusti, Wali Paidi usul begini, Gusti, Wali Paidi minta begini. Gara-gara sering usul itu, hampir semua malaikat mengenalmu. Karena seringnya kamu minta dan usul ke Gusti Allah, seharusnya kamu malu Di! Wali kok minta-minta terus seperti pengemis begitu. Ha ha ha...."

Wali Paidi terdiam seperti tengah ditelanjangi, Ia menghampiri orang gila tersebut dan mencium tangannya. Wali Paidi kaget karena ketika dipegang, tangan orang gila berambut gimbal itu seperti tidak bertulang, terasa halus, begitu lembut dan baunya sangat wangi.

Sementara itu, ketika Wali Paidi hendak menanyakan nama, orang gila itu buru-buru berkata:

"Kamu tak usah tahu namaku. Sudah sana, kamu pergi sowan ke kiaimu. Nanti kita bertemu di sana. Dan kalau kamu melihat kiaimu sedang ada tamu agung, kamu sebaiknya langsung pamit saja," saran sang gila itu hanya disambut anggukan oleh Wali Paidi.

"Kok dia tahu ke mana tujuanku". Makin bingung. Tapi dia hanya membatin saja. Menyimpan penasaran.

 

Setelah pamit salam, Wali Paidi pergi dari situ melanjutkan sowan ke kiainya pakai becak. Sesampainya di ndalem kiai, Wali Paidi langsung menuju ruang tamu. Ia disambut salah satu santri abdi dalem kiai yang memang bertugas melayani para tamu yang datang.

Belum lama duduk, ada dua laki-laki lain yang juga hendak sowan ke kiai. Mereka berdua duduk disamping Wali Paidi. Tak seperti biasanya, kali ini kiai tidak langsung menemui mereka bertiga. Wali Paidi dan kedua tamu lainnya menunggu lama. Sekitar satu jam kemudian, kiai baru keluar menemui di ruangan.

Wali Paidi dan kedua tamu langsung bersalaman dengan kiai, cium tangan penuh ta'dzim. Saat itulah Wali Paidi tampak sangat ta’dzim berhadapan dengan kiai melebihi ta'dzimnya di hari-hari biasa. Ia hanya bisa menunduk di hadapan kiai. Butiran air mata tiba-tiba mulai membasahi pipi.

Baru saja duduk, Wali Paidi malah mohon pamit dan bersalaman lagi ke kiai, minta doa restu. Kiai hanya tersenyum.

"Iya Di, 
rapopo, salam saja ke dulur-dulur semua," begitu dawuh kiai.

"Inggih kiai". Wali Paidi masih saja menunduk, tidak berani menatap wajah gurunya yang sangat meneduhkan itu.

Tentu kedua tamu yang bersamanya tadi heran melihat sikap Wali Paidi. Mereka sudah menunggu begitu lama di ruang tamu, namun begitu kiai keluar, Wali Paidi justru langsung mohon pamit. Penasaran, salah satu di antara mereka akhirnya menanyakan kepada kiai.

"Mas tadi itu menunggu panjenengan bersama kami begitu lama. Tapi setelah kiai datang, dia langsung mohon pamit, boleh tahu kenapa, kiai?"

"Hmm, gimana yah, kamu langsung saja ke orangnya dan tanyakan hal itu. Dia belum pergi jauh. Sekarang dia sedang duduk-duduk di pagar jembatan sebelah sana".

Setelah mohon ijin dan keluar sebentar, tamu itu nekad mencari Wali Paidi, mengejarnya. Dan benar apa yang dikatakan kiai, Wali Paidi masih duduk di pinggir jembatan yang dimaksud.

"
Assalamuailaikum, maaf mas, saya penasaran dengan sikap sampeyan tadi. Kok langsung mohon pamit ketika baru ketemu kiai". Ia hanya dijawab salam oleh Wali Paidi. Makin nampak berkaca-kaca matanya, setengah menangis.

"Gimana tidak langsung mohon pamit kang, 
wong di samping kanan kiai ada Baginda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dan di samping kiri kiai ada Nabiyullah Khidir alaihis salam, apa yang mau saya omongkan kalau beliau berdua hadir di samping kanan dan kiri kiai. Saya tidak berani melihat nur cahaya dua Nabi Allah tersebut".

Tamunya setengah tidak percaya, tapi dia hanya melongo. "Kok mas ini tahu ada Rasulullah dan Nabi Khidzir ada di samping kiai," gumamnya. Ia buru-buru kembali ke ndalem kiai, tapi kedua orang yang ada di samping kiai sudah tidak ada lagi.

Wali Paidi terus menerawang, jangan-jangan orang gila yang merampas tas kresek berisi makanan dan minuman pemberian Gohell dari terminal tadi adalah Nabi Khidzir. Cirinya jelas, tangannya tidak bertulang. Jarinya lembut, tidak bisa digunakan untuk "
njempol" (tanda pujian Top) yang tidak pantas dipakai untuk memuji selain kepada Allah.

Ia semakin yakin orang gila tersebut adalah Nabi Khidzir karena tadi sempat bilang begini, "Nanti kita bertemu di sana. Dan kalau kamu melihat kiaimu sedang ada tamu agung, kamu sebaiknya langsung pamit saja".

Wali Paidi mengikuti saran orang gila itu. Tunduk dan malu telah menyadarkan Gohell, yang bisa mengakibatkan hatinya muncul kesombongan. Padahal hidayah seorang hamba hanya diberikan atas kehendak Allah. Dipaksa pakai penthungan pun, kalau hidayah belum turun, tak akan berhasil. Apalagi dengan demo yang sangat cerewet. 

[dutaislam.com/ab]

 Garam "Suwuk" Sakti dari Wali Paidi Untuk Begal-Bedugal

DutaIslam.Com –

 

Acara peresmian toko onderdil mas kiai mursyid selesai. Wali Paidi pamit pulang. Ia kehabisan uang karena sangunya sudah dikasihkan kepada tamu-tamu mas kiai mursyid yang bersarung dan berpeci itu. Sengaja dikasih ke mereka sebagai uang kaget dari Wali Paidi. Kaget atas acara yang begitu menghebohkan, tidak selaiknya para mursyid thariqah.

Sudah tahu uangnya habis, mas kiai mursyid malah menggoda Wali Paidi.

"Kang, duit sampeyan kan masih banyak. Jadi aku wes nggak usah nyangoni. Ini bawa garam saja dari saya".

"Hehehe, iya mas yai, terimakasih," ucap Wali Paidi, basa-basi.

Sejak masa mbah yai masih ada, hingga abah yai dan mas yai mursyid, garam adalah cinderamata khas pondok pesantren. Orang-orang menyebutnya sebagai garam "suwuk" karena bisa digunakan untuk apa saja. Terutama mengobati penyakit lahir dan batin.

Adik mas kiai mursyid menawarkan untuk mengantar Wali Paidi ke terminal, tapi ia tidak mau.

"Saya jalan kaki saja sambil jalan-jalan menikmati pemandangan," ucap Wali Paidi kepada adik mas kiai mursyid.

Dzikir selalu menyertai setiap langkah pulang Wali Paidi.

Ketika melintasi jalan di pinggir alun-alun, ada segerombolan pemuda yang menguntitnya. Wali Paidi tetap meneruskan langkah. Ia sudah mengira kalau sebentar lagi akan dicegat mereka dan dipalak, dimintai duit.

Karena dia tidak lagi punya uang sama sekali, hatinya sangat sedih. Dia akan malu sekali karena tidak bisa memberi kepada orang yang akan memintanya itu, meski dengan cara memaksa.

"Kasihan mereka kalau sampai tidak mendapatkan uang dariku," Wali Paidi mencari solusi agar tetap bisa menolong makhluk Allah.

Ia berusaha menghidar karena malu. Wali Paidi terpaksa menyeberang jalan, menghindari mereka. Tapi gerombolan pemuda ini justru terus mengikutinya. Salah satu dari mereka akhirnya mendekat, maju ke depan tubuhnya, mencegat Wali Paidi.

"Duit, serahkan duitmu. Ayo cepat!" Ternyata dia adalah pimpinan gerombolan pemudanya.

Dengan santai dan tebar senyum, Wali Paidi membuka kaca mata hitamnya, melihat satu persatu para pemuda itu. Di kaos pimpinan gerombolan ini, ada simbol hati menyinar bertuliskan  "MURNI 22 NAIN".

Melihat Wali Paidi yang begitu tenang, mereka malah keder. Tidak ada ketakutan sama sekali di wajahnya.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku tidak punya uang sama sekali. Maaf aku membuat kalian kecewa, uangku sudah habis kukasihkan kepada orang lain pas acara tadi," ucap Wali Paidi.

Ketua gerombolan ini tergetar hatinya ketika melihat tatapan mata Wali Paidi yang teduh. Hati pemuda ini tiba-tiba jadi damai. Tanpa disadari, matanya mulai berkaca-kaca. Pemuda itu mulai teringat dosa-dosanya. Ia tidak tahu mengapa hatinya yang begitu keras tiba-tiba saja teringat kelam masa lalu, terekam lagi pesan-pesan gurunya dulu.

Kawanan gerombolan ini juga ikut termangu melihat pimpinan mereka diam tak bergerak sama sekali. Mereka heran. Mas Gohell (Nama aslinya sholeh, asal Tegal) ini kalau ada orang dimintai duit tapi tidak memberi biasanya langsung dipukulinya sampai kelenger. Tapi kali ini tidak.

"Saya tidak bisa memberi apa-apa. Ini ada garam kalau sampeyan mau, katanya ibu sampeyan sekarang sakit,"

Pemuda bernama Gohell itu jadi heran setengah mati. Kok ada pemuda berpenampilan ala distro (Wali Paidi) mengetahui kalau sekarang ibunya sakit.

Selama beberap hari, hatinya galau memikirkan penyakit ibunya yang tak kunjung sembuh. Perhatian Wali Paidi terhadap ibunya membuat hati Gohell terenyuh. Selama ini semua orang di kampung tidak ada yang peduli dengan Gohell dan keluarganya. Bahkan banyak yang mencibir.

Tanpa bisa ditahan, pemuda ini terduduk di hadapan Wali Paidi dan menangis tersedu-sedu. 

[dutaislam.com/ab]